Latest Post

TRIENGGADENG — BNN (Badan Narkotika Nasional) Pidie Jaya mengadakan razia gabungan bersama Polri dan TNI di ruas jalan Medan – Banda Aceh, tepatnya di Kawasan Wisata Pantai Kuthang, Jumat (2/6/17) malam. Semua mobil angkutan dan mobil barang mulai diperiksa sejak pukul 22.30 – 01.00 WIB.
Tak luput juga sejumlah mobil pribadi dari arah Medan atau Banda Aceh diminta berhenti dan diperiksa semua barang di dalamnya. Petugas minta pemilik mobil atau sopir dan kenek supaya turun membuka pintu mobil supaya dapat diperiksa.
Kepala BNN Pidie Jaya Nurdaidah, S.Pd berharap dengan razia gabungan ini anak-anak tidak kecanduan narkoba lagi.
“Harapan kita mencetak generasi Pidie Jaya yang handal tanpa narkoba,” ujarnya kepada Kabarpidiejaya.com di lokasi.
Ditanya kabarpidiejaya.com apakah BNN Pijay memiliki target dari razia gabungan malam ini.
“Tidak ada,” tutupnya.
Sementara di tempat terpisah Kapolres Pidie dan Pidie Jaya AKBP Andi Nugraha Setiawan Siregar, SIK melalui Kapolsek Trienggadeng Iptu Mulyadi, SH., MH., berharap dengan razia gabungan ini dapat mencegah peredaran narkoba.
“Apalagi puasa ini kita kurang melakukan razia. Razia tadi kita lebih fokus ke mobil pribadi dan penumpang dari arah Banda Aceh ke Medan,” ujarnya.
Razia gabungan ini baru pertama kali dilaksanakan BNN Pidie Jaya. (*)

Berita ini pernah diterbitkan oleh Kabar Pidie Jaya, Sabtu, 03/06/2017, 08.00 wib

Juru bicara KPK Febri Diansyah. 
JAKARTA - Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais berencana menemui pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (5/6/2017) mendatang.
Hal itu dimaksudkan untuk mengklarifikasi soal dugaan penerimaan uang Rp 600 juta dari kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) di era Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.
Sebelumnya pada sidang pembacaan tuntutan terhadap Siti Fadilah, aliran uang dugaan korupsi pengadaan alkes itu diterima Amien Rais secara bertahap selama enam kali melalui rekening.

Menanggapi hal ini, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menyatakan pihaknya belum menerima adanya permintaan resmi soal keinginan Amien Rais tersebut.
Menurut Febri, pimpinan KPK sangat menghindari pertemuan dengan pihak yang terkait dengan perkara.
"Sejauh ini belum ada permintaan resmi yang kami terima. Dipastikan (tidak ada pertemuan) karena pimpinan sangat menghindari pertemuan dengan pihak terkait dengan perkara," ujar Febri, Jumat (2/6/2017).
Untuk diketahui, dalam ‎sidang lanjutan Siti Fadilah Supari di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (31/5/2017) malam, Jaksa Penuntut Umum KPK Iskandar Marwanto menyebut Amien Rais menerima aliran dana hingga Rp 600 juta yang ditransfer sebanyak enam kali.
Transfer pertama kali dilakukan pada 15 Januari 2007, kemudian 13 April 2007, 1 Mei 2007, 21 Mei 2007, 13 Agustus 2007, dan 2 November 2007 dengan masing-masing nilai transfer Rp 100 juta.
Amien bukan satu-satunya tokoh Partai PAN yang disebut Jaksa Iskandar dalam pembacaan tuntutan Siti Fadilah Supari. Mantan Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir juga disebut menerima dana Rp 250 juta pada 26 Desember 2006.
Dalam kasus ini Siti Fadilah Supari dituntut 6 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.
Bahkan Siti Fadilah juga dituntut kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp 1,9 miliar subsider satu tahun kurungan.


Banda Aceh – Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Moch. Fachrudin, S.Sos memberikan bantuan beasiswa kepada Naufal Raziq Bocah asal Aceh Timur penemu energi listrik dari pohon kedondong pagar (Spondias Dulcis Forst) di Ruang Tamu Pangdam, Banda Aceh, Kamis siang 1 Juni 2017.
Naufal memenuhi undangan Pangdam IM untuk berdiskusi mengenai energi yang telah ditemukannya yaitu energi listrik dari pohon kedondong pagar.
Bocah yang saat ini sudah berusia 15 tahun tersebut telah meneliti energi listrik dari pohon kedondong pagar selama tiga tahun ini. “Kami melihat inovasi dari Naufal ini merupakan wujud energi terbarukan yang memanfaatkan potensi alam yang banyak dijumpai di Indonesia. Dan sesuai semangat kami yang sangat mendukung inovasi teknologi baru terbarukan. 
Harapannya semakin banyak inovator yang menemukan solusi untuk penggunaan energi yang terbarukan,” jelas Pangdam.
Pertemuan selama satu jam tersebut, Mayjen TNI Moch. Fachrudin, S.Sos memberikan motivasi kepada Naufal agar bisa menciptakan listrik dengan kapasitas yang lebih besar dan handal agar bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. “Tadi habis bertemu Pak Pangdam, membicarakan listrik dari pohon kedondong pagar,” kata Naufal.
Sebelumnya, teknologi temuan Naufal ini telah dimanfaatkan PT Pertamina EP melalui Rantau Field untuk membantu sekolah Anak Merdeka dan beberapa rumah serta fasilitas umum di desa terpencil Tampor Paloh Kec. Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur mendapatkan penerangan di malam hari.


Selain itu, pohon energi ini juga telah dipasang di lokasi Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina di Aceh Tamiang, yang juga menjadi laboratorium tree energy dalam pengembangannya untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal.


Demi memuaskan dahaga kalian terkait Habib Rizieq Syihab, kami memutuskan untuk membuat seri tulisan tentangnya.
Kami tahu banyak yang penasaran dengan sosok fenomenal ini. Apalagi bagi pembaca muda yang baru mengikuti sepak terjang ulama Betawi ini. Padahal sebenarnya, dia telah memulai debutnya sebagai pembela Islam yang tangguh sejak 1998. Beruntung, penulis telah mengikuti sepak terjang tokoh kita ini sejak 1998 dan juga telah membuat buku tentang FPI pada 2002 dan reportase sosok Habib Rizieq pada 2006.
Tak bisa dipungkiri, kini ketenaran Habib telah melampaui batas-batas teritorial negeri ini. Terutama sejak suksesnya Aksi Bela Islam 212 yang fenomenal dan dahsyat yang mengumpulkan jutaan umat Islam di Jakarta. Ditambah lagi kini dia dijadikan target polisi untuk ditangkap. Namun dia memutuskan diri untuk tidak pulang ke Indonesia dan bertahan di luar negeri.
Sekarang di tanah air, setiap hari dirinya menjadi pemberitaan, baik positif maupun negatif.
Dua grup media yang paling memusuhi dirinya, yaitu Kompas Group dan Metro TV, tidak lagi menggunakan nama Habib Rizieq Syihab. Mereka menggantinya dengan Rizieq Syihab.
Habib mereka tanggalkan dari rangkaian namanya dengan maksud mendegradasi pengaruhnya sebagai Habib. Sebab Habib adalah gelar bagi keturunan Husein, cucu Rasulullah. Kompas dan Metro TV jelas bermaksud jahat dalam hal ini. Mereka menginginkan pikiran publik tidak melihat Habib Rizieq sebagai keturunan Rasulullah dari jalur Husein putra Ali bin Abi Thalib dengan ibu, Fatimah binti Muhammad Saw.
Kebencian yang ditampakkan dari cara pemberitaan Kompas dan Metro TV  hanya akan menelanjangi siapa pihak di balik kedua media tersebut.
Seterusnya di postingan selanjutnya, kami akan menurunkan kisah positif terkait Habib Rizieq bin Husein Syihab. Nantikanlah wahai pembaca.
Jangan lupa, baca terus sajian lamberitaacehblogspot.co.id.     Baca…baca..dan sebarkan!
Berita ini pernah diterbitkan oleh Nusantarakini.com, 18 May 2017, 11:36

Dayat, Penjelajah Aceh-Merauke Berpose bersama Motor Bebeknya.


Banda Aceh - Beragam cara dilakukan seseorang untuk melihat lebih dekat adat budaya serta keindahan alam Indonesia. Seorang anggota komunitas Motorcycle Community Banda Aceh memilih menaklukkan Nusantara dengan berjelajah dari Aceh hingga Merauke menggunakan sepeda motor bebek 100 cc.

Ialah Hidayattullah Ramadhan, pemuda asal Aceh ini sudah tiga tahun menjelajah pelosok Nusantara sejak akhir 2013 silam. Ia pergi seorang diri dengan menggunakan motor bebek keluaran tahun 2004. Semua perlengkapan diangkut dengan kendaraan yang dinaikinya.

Selama berkeliling Indonesia, Dayat telah singgah di 31 provinsi serta 200 kota. Ia juga melihat tapal batas Indonesia-Papua New Guinea (PNG) dan Indonesia-Malaysia. Ekspedisi bertajuk "Indonesia Itu Indah Bray" ditargetkan berakhir akhir 2016 mendatang.

"Tujuan saya melakukan perjalanan ini untuk membangun rasa persaudaraan dan menumbuhkan rasa semangat nasionalisme serta untuk mengenal adat budaya di tanah Indonesia," kata Dayat dalam keterangannya, Kamis (17/3/2016).

Aksi jelajah Indonesia itu dilakukan berawal dari hobi yang digelutinya. Sebelumnya, ia sudah pernah mengikuti touring bersama komunitas di wilayah Aceh. Setelah itu, baru munculkan keinginan untuk menaklukkan Aceh-Merauke lewat kegiatan bertajuk "Indonesia itu Indah Bray".

Menurutnya, ia melakukan perjalanan pada 22 November 2013 silam dari basecamp komunitas Motorcycle Community di Aceh Besar, Aceh. Dari Aceh, Dayat menjelajah provinsi di Sumatera kemudian menyeberang ke Pulau Jawa, Sulawesi, dan Papua. Ia menargetkan sampai kembali di Aceh pada Desember 2016 mendatang.

"Banyak pengalaman yang saya temui di wilayah yang saya kunjungi. Masyarakat hidup rukun dan ramah-ramah. Wisata di seluruh Indonesia juga sangat indah," jelasnya.
 
"Saya juga memperkenalkan daerah saya, Aceh saat singgah di setiap daerah di Indonesia," tambahnya. (*)

Pimpinan FPI, Habib Rizieq Tersangkut Kasus Mesum

JAKARTA,  Empat hari pasca penetapan tersangka kasus dugaan konten pornografi, imam besar FPI Habib M Rizieq Shihab tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hingga Rabu (31/5), Rizieq masih berada di Arab Saudi.

Penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengeluarkan selebaran DPO (Daftar Pencarian Orang). Ribuan lembaran disebar untuk menginformasikan bahwa Rizieq menjadi buronan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Metro Kombespol Argo Yuwono menyebutkan, lembaran DPO disebarkan ke seluruh jaringan Polri. Termasuk ke Polres hingga Polsek. “Hari ini (Rabu, 31/5, red) kami juga sedang koordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Besok (hari ini, red) hasilnya,” ujar Argo di Mapolda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin siang.
Dia mengklaim, Polisi tidak butuh menggeledah rumah Rizieq pasca mengeluarkan surat penangkapan dan DPO. Karena pihaknya telah mengetahui bahwa Rizieq tengah tidak ada di Jakarta. “Setelah mengeluarkan surat perintah penangkapan, kan mengeluarkan DPO. Kami sudah tahu dia ini di luar negeri sejak 26 April toh,” tambahnya.
Lalu, terkait visa yang dikantongi Rizieq, dia mengatakan, pihaknya telah menyarankan imigrasi untuk mencabut visa sang imam besar. Selama berpergian, Rizieq diketahui menggunakam visa umrah.
Sementara itu, berdasar pantauan Jawa Pos, pada Rabu dini hari, rumah Rizieq dijaga simpatisan dan anggota FPI. Penjagaan dilakukan sejak pukul 23.00-02.00. Salah seorang narasumber yang tidak bersedia menyebutkan nama menyatakan, seluruh anggota dan simpatisan FPI siap untuk menjaga rumah Rizieq. “Kami akan jaga lokasi ini,” katanya.
Menanggapi hal itu, Argo mengimbau, kondisi sosial tidak perlu memanas. Dia menyatakan, masyarakat jangan saling bertikai hanya karena kasus Rizieq. “Kami independen. Tidak tertekan oleh siapa pun dalam menjadikan Rizieq sebagai tersangka,” terangnya.
Lalu, saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya Irjenpol Mochammad Iriawan menyatakan, pihaknya ada langkah untuk menjemput paksa Rizieq. Penyidik akan berkoordinasi dengan pihak intel Mabes Polri. ”Sepertinya mengarah ke sana (penjemputan paksa, red),” ungkap mantan Kadiv Propam Mabes Polri itu.
Dikonfirmasi terpisah, salah seorang kuasa hukum Rizieq, Kapitra Ampera mengatakan, fenomena yang sedang menjerat Rizieq adalah upaya serangan balik dari kelompok pembenci kliennya itu. Yakni, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Setelah Ahok divonis dua tahun penjara dan ditahan, banyak pendukung dari Ahoker yang tidak rela dan seakan menuntut balas mata dengan mata. Ahoker meminta supaya Habib ini dipenjarakan. Kentara banget ini,” tegasnya. (*)

Dandim 0208 Asahan, Letkol ARM Suhono memberi keterangan kepada wartawan.

LHOKSUKON – Sebanyak 12 TKI dari 30 orang yang ditangkap TNI angkatan Laut di Perairan Tanjung Balai Sumatera Utara pada Rabu (31/5/2017), adalah warga Aceh.
Mereka adalah TKI Ilegal di Malaysia dan pulang ke Indonesia dengan menggunakan kapal kayu berukuran kecil.
Kini mereka ditahan di Markas Komando Lanal Tanjung Balai-Asahan.
Informasi penangkapan 30 TKI, 12 diantaranya adalah warga asal Aceh.
“Awalnya saya mendapat informasi ada 30 TKI yang ditangkap termasuk warga Aceh dari Gabungan Aceh Nusantara (GAN) yang berada di Malaysia,” kata Sudirman.
Disebutkan, mereka ditangkap marinir di Perairan Tanjung Balai Sumatera Utara saat sedang pulang kampung dari Malaysia menumpangi kapal kayu tujuan Sumatera Utara.
Sebagian sudah sempat sempat berkomunikasi dengan keluarganya via telepon seluler sebelum pulang, sehingga membuat keluarga di Aceh panik. (*)

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget